Sabtu, 22 Agustus 2015

Contoh Conversation Going to The Beach

Percakapan Inggris Indonesia saat pergi berwisata ke pantai atau going to the beach ini adalah contoh bagaimana beberapa orang berlatih menggunakan bahasa inggris saat wisata ke pantai. Anda bisa mempelajarinya dan coba mempraktekkanpercakapan inggris indonesia dibawah ini sebagai referensi jika Anda ingin pergi ke pantai bersama teman-teman kursus bahasa inggris Anda dan berlatih disana.

Contoh Percakapan Inggris Indonesia – Going to the Beach

Let’s Go Swim, Gisel!
(Candra, Lela, Haris, and Gisel having fun on the beach to spend their vacation)
Candra: Alright! Has everyone changed clothes? Are you all ready to feel the sea water, Guys?
Lela: Yess! Yahoo!
Haris: Yeaah! Let’s goooo! ….Huh?? Wait a second… Are you not going to swim with us, Gisel?
Gisel: Um… I think I’m not swimming with you, Guys. It has been fun sitting on the shore like this while watching the beauty of the sea from afar.
Lela: What is the matter, Gisel? Are you going to spend the whole time just by sitting under the parasol?
Gisel: No, it’s okay, Guys. Just leave me and go get the fun on the water!
Lela: Oh! I see…. You’re not going to swim with us because you’re afraid of your skin getting dark by the sun, aren’t you?
Haris: Come on, Gisel. So, what is the point of having fun on the beach then?
Candra: That is no fun, Gisel. Look at that! Even little children and old people are having fun on the water.
Gisel: Umm…tee hee hee… I’m sorry, Guys. Actually, I just had my skin’s beautification treatments on a beauty salon yesterday. If I go to swim under the sun like this I can ruin all of the treatments. Please don’t mind me, Guys. You are wasting your fun time by talking to me.
Lela: Come on, Gisel. You don’t even move an inch from under this big parasol. How come you say that you’re having fun with that?
Gisel: Um…. Okay! Look, while you are swimming I can have fun with this sand by making some sand castles, right?
Haris: You don’t bring tools to make the sand castles, Gisel. I think it would be impossible for you to make the sand castles by only using your girly hands.
Lela: You’re so mean, Haris! Building up sand castles is easy for me!
Candra: You have applied some sun screen lotion on your skin, haven’t you? That would be strong enough to protect your skin from the sunlight. Let’s go, Gisel.
Gisel: Um, I think the lotion’s protection doesn’t last long. So, sitting here is the best choice for me.
Haris: Alright, Gisel! Do as you wish. Come on, Guys. I think it’s no good to persuade her out.
Lela: Um… Gisel. Can you see him?
Gisel: Huh? Who? …. Oh My! That is Weldy! What is he doing on this beach?
Lela: He is going to swim as well. Why don’t you go to swim then?
Gisel: Fine! I’m coming with you into the water!
Lela: Great! Now change your clothes!
Candra: Huh??? What is happening??
Haris: Gisel really likes Weldy. Gisel will definitely go to swim with Weldy around.
Candra: Oh, I see… Alright, let’s go, Everyone!

Glossaries Percakapan Inggris Indonesia – Going to the Beach

Have fun = bersenang-senang
Spend = menghabiskan
Wait a second = tunggu sebentar
Shore = tepi pantai
From afar = dari kejauhan
What is the matter? = ada apa? Ada masalah apa?
Whole time = sepanjang waktu
Parasol = payung pelindung sinar matahari
Go get the fun! = pergilah bersenang-senang!
What is the point… = Apa intinya…
That is no fun = itu tidak menyenangkan
Skin’s beautification treatment = perawatan mempercantik kulit
Beauty salon = salon kecantikan
Ruin = menjatuhkan, menghancurkan
Please, don’t mind me = Tolong, jangan pikirkan aku
Move an inch = bergerak sedikit pun
How come = bagaimana bisa
Sand castle = istana pasir
Mean = jahat, kejam
Build up = membangun
Apply (something) on = mengoleskan sesuatu ke
Sun screen lotion = losion tabir surya
Last long = bertahan lama
Do as you wish! = lakukanlah apa yang kamu mau!
No good = tidak ada gunanya
Persuade out = mengajaknya
What is happening? = apa yang sedang terjadi?

Membuat Puisi Bahasa Inggris

Puisi merupakan salah satu bentu karya sastra yang paling umum digunakan untuk mengungkapkan perasaan dimanapun dan kapanpun termasuk Puisi bahasa inggris tentang sahabat. Puisi Bahasa Inggrisadalah suatu bentuk puisi yang menggunakan bahasa Inggris dalam penulisannya. Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair karena Karya sastra tersebut tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, diperlukan pengetahuan mengenai hal-hal yang terkait dengan puisi tersebut. Jika ingin memahami puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair. Cara penyair dalam menyampaikan inspirasinya serta bagaimana menafsirkan makna puisi dengan mudah merupakan tantangan yang harus dilakukan dalam membuat dan menulis puisi. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan. Berikut adalah contoh puisi bahasa inggris tentang sahabat :

ARE YOU MY FRIEND?
By James Brinkworth

Will you be there when I’m down,
And catch me when I fall?
Will you hold me when I need
To feel the warmth of your touch?

Will you laugh when I laugh,
And cry when I cry?
Will you let me rant and rave,
When I need to let off steam?

Will you discuss those painful things,
That you’d rather not think about?
Like the times we’ve hurt each other,
And promised would never do so again?

Will you say the right thing,
When all I’ve heard is the wrong?
And tell me soothing words,
That make the pain I feel subside?

Will you understand me when I say,
“I can’t see you now, go away”?
Will you come back when I call,
As if nothing happened at all?

If you’ll do these things for me,
And keep smiling all the way.
If you’ll be with me through the bad times,
As well as the good.

Then truly you are my friend,
My pal, my mate and my confidante.
And that means so much to me.
I thank you dearly, for being there,
You, My Friend.

Puisi bahasa inggris tentang sahabat dengan judul “Are You My Friend?” di atas menunjukkan rasa kesetiakawanan antar sahabat yang siap menemani dalam berbagai kondisi. Dalam  puisi sahabat bahasa inggris ini James mengungkapkan bahwa sahabat yang baik menurutnya adalah seseorang yang selalu ada dalam suka maupun duka dan saling menghargai satu sama lain. Sahabat juga harus menerima kekurangan satu sama lain serta selalu berupaya untuk memperbaiki diri. Puisi bahasa inggris sahabat ini adalah bentuk kejujuran James yang sangat berterima kasih pada sahabat-sahabatnya yang selalu bisa meluangkan waktu dan berbagi dengannya. Puisi bahasa inggris tentang sahabat ini memiliki makna yang baik dan bertujuan untuk mebuat orang yang membaca pun merasa bahagia karena memiliki sahabat yang baik.

Budaya Politik

BUDAYA POLITIK

1.      Tipe-tipe Budaya Politik

Menemukan tipe budaya politik pada masyarakat Cineam dapat dilakukan melalui analisis beberapa teori mengenai tipe-tipe budaya politik dari para ahli. Berikut ini adalah tipe-tipe budaya politik yang berkembang di Indonesia menurut para ahli:

1. Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan

Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks, menuntut kerja sama yang luas untuk memper­padukan modal dan keterampilan. Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap ”militan” atau sifat ”tolerasi”.

 

Budaya Politik Militan

Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik, tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. Bila terjadi kriris, maka yang dicari adalah kambing hitamnya, bukan disebabkan oleh peraturan yang salah, dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi.

Budaya Politik Toleransi

Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai, berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. Sikap netral atau kritis terhadap ide orang, tetapi bukan curiga terhadap orang.

Jika pernyataan umum dari pimpinan masyarakat bernada sangat militan, maka hal itu dapat men­ciptakan ketegangan dan menumbuhkan konflik. Kesemuanya itu menutup jalan bagi pertumbuhan kerja sama. Pernyataan dengan jiwa tolerasi hampir selalu mengundang kerja sama.

2.      Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan.

Budaya Politik berdasarkan sikap terhadap terbagi atas :

a.      Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut

Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang. dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). Budaya politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi, jarang bersifat kritis terhadap tradisi, malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. Maka, tradisi selalu dipertahankan dengan segala kebaikan dan keburukan. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak memungkinkan pertumbuhan unsur baru.

b.      Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif

Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia dapat melepaskan ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan masa kini.

Tipe absolut dari budaya politik sering menganggap perubahan sebagai suatu yang membahayakan. Tiap perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya yang harus dikendalikan. Perubahan dianggap sebagai penyim­pangan. Tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan. Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna.

3.      Berdasarkan Orientasi Politiknya

Realitas yang ditemukan dalam budaya politik, ternyata memiliki beberapa variasi. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan memiliki budaya politik yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat, Gabriel Almondmengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut :

Budaya politik parokial (parochial political culture), yaitu tingkat partisipasi politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). Secara relatif parokialisme murni itu berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana sehingga spesialisasi politik berada pada jenjang yang paling rendah. Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif ketimbang kognitif. Contohnya suku bangsa terpencil di Nigeria atau Ghana, dapat saja menyadari akan suramnya rezim politik sentral dengan berbagai cara. Akan tetapi perasaannya terhadap hal tersebut bersifat tidak menentu dan mereka tidak membakukan norma-norma untuk mengatur hubunganya dengan hal tersebut.Budaya politik kaula (subyek political culture), yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif. Di sini terdapat frekuensi orientasi yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu. Akan tetapi, frekuensi orientasi terhadap obyek-obyek input secara khusus dan terhadap pribadi sebagai partisipan aktif. Subjek politik menyadari otoritas pemerintah, mereka secara efektif diarahkan terhadap otoritas tersebut dan mereka mungkin menunjukan kebanggaanya terhadap sistem itu. Akan tetapi hubungan terhadap sistem secara umum dan hasilnya bersifat pasif. Walaupun ada bentuk kompetensi yang terbatas dan tersedia di dalam kebudayaan subjek.Budaya politik partisipan (participant political culture), yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi. Dengan kata lain bentuk kultur dimana anggota masyarakat cenderung diarahkan secara eksplisit kepada sistem sebagai keseluruhan dan terhadap struktur serta proses politik serta administratif. Dengan kata lain, budaya partisipan diarahkan kepada aspek input dan output sistem politik itu sendiri. Anggota pemerintahan yang dapat bekerja sama diarahkan kepada berbagai obyek politik yang beragam.

Dalam kehidupan masyarakat, tidak menutup kemungkinan bahwa terbentuknya budaya politik merupakan gabungan dari ketiga klasifikasi tersebut di atas. Tentang klasifikasi budaya politik di dalam masyarakat lebih lanjut adalah sebagai berikut.

NO

BUDAYA POLITIK

URAIAN/KETERANGAN

1.ParokialFrekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek umum, obyek-obyek input, obyek-obyek output, dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol.Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat.Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik.Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem politik.Parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi politik berada pada jenjang sangat minim.Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif.2.Subyek/KaulaTerdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu, tetapi frekuensi orientasi terhadap obyek-obyek input secara khusus, dan terhadap pribadi sebagai partisipan yang aktif mendekati nol.Para subyek menyadari akan otoritas pemerintahHubungannya terhadap sistem plitik secara umum, dan terhadap output, administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif.Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak terdapat strukturinput yang terdiferensiansikan.Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif.3.PartisipanFrekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek umum, obyek-obyek input, output, dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati satu.Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif (aspekinput dan output sistem politik)Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politikMasyarakat berperan sebagai aktivis.

 

Kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki kemauan untuk mendiskusikan hal tersebut. Mereka memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam beberapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompok-kelompok protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan yang tidak fair.

Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh suburnya demokrasi. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan warga negara dengan pemerintah, yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi politik, yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik, dan tingkat efficacy atau keberdayaan, karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang ditunjukan oleh warga negara. Oleh karena itu mereka merasa perlu untuk terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya keterlibatan dalam politik. Selain itu warga negara berperan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat secara sukarela, karena adanya saling percaya (trust) antar warga negara. Oleh karena itu dalam konteks politik, tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi masyarakat secara politik.

Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya politikpartisipan. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki pemahaman yang sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian terhadap sistem politik, tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih pasif. Mereka tetap mengikuti berita-berita politik, tetapi tidak bangga terhadap sistem politik negaranya dan perasaan komitmen emosionalnya kecil terhadap negara. Mereka akan merasa tidak nyaman bila membicarakan masalah-masalah politik.

Demokrasi sulit untuk berkembang dalam masyarakat dengan budaya politik subyek, karena masing-masing warga negaranya tidak aktif. Perasaan berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan kontak dengan pejabat lokal. Selain itu mereka juga memiliki kompetensi politik dan keberdayaan politik yang rendah, sehingga sangat sukar untuk mengharapkan artisipasi politik yang tinggi, agar terciptanya mekanisme kontrol terhadap berjalannya sistem politik.

Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah, yang didalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa mereka adalah warga negara dari suatu negara, mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada perasaan lokalitas. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik, pengetahuannya sedikit tentang sistem politik, dan jarang membicarakan masalah-masalah politik.

Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik. Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul, ketika berhadapan dengan institusi-institusi politik. Oleh karena itu terdapat kesulitan untuk mencoba membangun demokrasi dalam budaya politik parokial, hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan kewarganegaraan baru. Budaya politik ini bisa dtemukan dalam masyarakat suku-suku di negara-negara belum maju, seperti di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Namun dalam kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki budaya politik murni partisipan, pariokal atau subyek. Melainkan terdapat variasi campuran di antara ketiga tipe-tipe tersebut, ketiganya menurut Almond danVerba tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik, yaitu :

Kebudayaan Subjek-ParokialØ Suatu tipe kebudayaan politik dimana sebagian besar penduduk menolak tuntutan-tuntutan ekslusif masyarakat kesukuan, desa, atau otoritas feodal. Sejarah dan rentetan peristiwa berbagai bangsa melibatkan peralihan awal dari parokialisme lokal menuju pemerintah desentralisasi. Akan tetapi, peralihan ini dapat diselaskan pada situasi dimana berlangsung pengembangan budaya subjek. Dengan demikian, Anda dapat mengatakan bahwa perubahan kebudayaan politik parokial menuju kebudayaan politik subjek dapat dimantapkan pada sejumlah hal tertentu yang menjadi fokus pengamatan. Hal itu menghasilkan perpaduan politik, psikologi, dan budayal yang berbeda-beda. Keadaan tersebut menegaskan bahwa jenis perpaduan yang dihasilkan mempunyai manfaat yang besar terhadap stabilitas dan penampilan sistem politik tersebut.Kebudayaan Partisipan-SubjekØ Model kebudayaan ini merupakan proses cara peralihan dari kebudayaan parokial menuju kebudayaan subjek. Hal yang dilakukan pasti akan mempengaruhi berlangsungnya proses peralihan dari budaya subjek menuju budaya. Dalam budaya subjek partisipan yang bersifat campuran itu, sebagian besar penduduk telah memperoleh orientasi input yang bersifat khusus. Di Eropa Barat contoh tipe kebudayaan politik seperti ini dilaksanakan di Prancis, Jerman, dan Italia sejak abad 19 sampai sekarang ini.Kebudayaan Parokial-PartisipanØ Dalam kebudayaan ini, terdapat masalah kontemporer mengenai pembangunan kebudayaan di sejumlah negara yang sedang berkembang. Di hampir semua negara berkembang, budaya politik yang dominan adalah budaya parokial. Norma-norma struktural yang diperkenalkan biasanya bersifat partisipan. Demi keselarasan, mereka menuntut suatu budaya partisipan. Perkembangan dari budaya parokial ke arah budaya partisipan dilihat dari satu segi nampaknya menjadi suatu hal yang tidak mempunyai harapan. Akan tetapi, jika diingat semua kekuasaan dan loyalitas parokial yang hidup subur di sejumlah negara muda, paling tidak kita boleh berkata bahwa perkembangan ke arah budaya partisipasi.2.      Perkembangan Budaya Politik Indonesia

Pembagian budaya politik di Indonesia yang lebih didasarkan pada gaya berpolitik yang berkembang di Indonesia ada 3 tipe yaitu :

Budaya politik tradisional

Budaya politik tradisional ialah budaya politik yang mengedepankan satu budaya dari etnis tertentu yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, budaya politik yang berangkat dari paham masyarakat Jawa.

Selain itu, budaya politik tradisional juga ditandai oleh hubungan yang bersifat patron-klien, seperti hubungan antara tuan dan pelayannya.

Budaya politik semacam ini masih cukup kuat di beberapa daerah, khususnya dalam masyarakat etnis yang sangat konservatif. Masyarakat tradisional seperti ini biasanya berafiliasi pada partai-partai sekuler (bukan partai agama).

Budaya politik Islam

Budaya politik Islam adalah budaya politik yang lebih mendasarkan idenya pada suatu keyakinan dan nilai agama tertentu (Islam). Agama Islam di Indonesia menjadi agama mayoritas dan Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, sehingga Islam menjadi salah satu budaya politik yang cukup mewarnai kebudayaan politik di Indonesia. Orientasi budaya politik yang mendasarkan pada nilai agama Islam mulai tampak sejak para pendiri bangsa membangun negeri ini.

Budaya politik Islam biasanya dipelopori oleh kelompok santri. Kelompok ini identik dengan pendidikan pesantren atau sekolah-sekolah Islam. Kelompok masyarakat ini terdiri dari dua yakni tradisional dan modern. Kelompok tradisional biasanya diwakili oleh masyarakat santri yang berasal dari organisasi NU (Nahdlatul Ulama). Sementara yang modern biasanya diwakili oleh masyarakat santri dari organisasi Muhammadiyah.  Perbedaan karakter Islam ini juga turut melahirkan perbedaan pilihan politik. Ini membuat budaya politik Islam menjadi tidak satu warna.

Pada masa lalu, kelompok santri biasanya berafiliasi pada partai seperti Masyumi dan partai NU. Kedua partai ini memiliki basis pada kelompok masyarakat Islam.

Budaya politik modern

Budaya politik modern adalah budaya politik yang mencoba meninggalkan karakter etnis tertentu atau pendasaran pada agama tertentu.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, dikembangkan budaya politik modern yang dimaksudkan untuk tidak mengedepankan budaya etnis atau agama tertentu. Pada masapemerintahan ini ada dua tujuan yang ingin dicapai yakni stabilitas keamanan dan kemajuan.

Seperti halnya budaya politik Islam, budaya politik modern juga bersifat kuat dan berpengaruh. Di dalamnya terdapat beragam subkultur seperti kelompok birokrat, intelektual, dan militer. Nyatanya hanya ada dua kelompok (birokrat dan militer) yang paling berpengaruh dalam pembuatan kebijakan pada masa Orde baru.

3.      Tipe Budaya Politik Petani Salak Cineam

Untuk mengetahui tiipe budaya politik pada petani salak cineam dapat dilihat dari beberapa teori yang telah dipaparkan di atas. Masyarakat petani salak Cineam yang lebih bersifat tradisional dan juga masyarakat transisi antara pedesaan dan perkotaan serta nilai-nilai religi Islam yang teguh, mempegaruhi pada budaya politik yang di anutnya. Melihat indikator tersebut maka budaya politik para petani salak Cineam dapat dikategorikan ke dalam budaya politik parochial partisipan serta budaya politik Islam.

4.      Perkembangan Tipe Budaya Politik sejalan dengan Perkembangan Sistem Politik yang Berlaku

Pada negara-negara demokratis umumnya, partisipasi politik warga negaranya dapat mempengaruhi pembuatan suatu kebijakan (policy).Hal tersebut sejalan dengan pendapat Samuel P. Huntington dan Joan Nelson yang menyatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan warga negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi, yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah.Partisipasi bisa bersifat individual dan atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap atau sporadis, secara damai atau dengan kekerasan, legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif.

Makna Sosialisasi Kesadaran Politik

Menurut M. Taopan, Kesadaran politik (political awwarnes) merupakan proses bathin yang menampakkan keinsyafan dari setiap warga negara akan pentingnya urusan kenegaraan dalam kehidupan bernegara. Masyarakat khususnya petani salak di Cineam harus mendukung pemerintah, mengingat kompleks dan beratnya beban yang harus dipikul para penyelenggara negara. Kesadaran politik yang terbangun dalam diri petani salak dapat terwujud  melalui sosialisasi politik.

Sosialisasi Politik, merupakan salah satu dari fungsi-fungsi input sistem politik yang berlaku di negara-negara manapun juga baik yang menganut sistem politik demokratis, otoriter, diktator dan sebagainya. Sosialisasi politik, merupakan proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat.

Keterlaksanaan sosialisasi politik, sangat ditentukan oleh lingkungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan di mana seseorang/individu berada. Selain itu, juga ditentukan oleh interaksi pengalaman­-pengalaman serta kepribadian seseorang. Sosialsiasi politik, merupakan proses yang ber­langsung lama dan rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi di antara kepribadian individu dengan pengalaman-pengalaman politik yang relevan yang memberi bentuk terhadap tingkah laku politiknya. Pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap­-sikap yang diperoleh seseorang itu membentuk satu layar persepsi, melalui mana individu menerima rangsangan-rangsangan politik. Tingkah laku politik seseorang berkembang secara berangsur-angsur.

Jadi, sosialisasi politik adalah proses dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya, sekalipun hal ini mungkin bisa terjadi. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi. Akan tetapi, apakah akan menuju kepada stagnasi atau perubahan, tergantung pada keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. Apabila tidak ada legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya, maka perubahan mungkin terjadi. Akan tetapi, apabila legitimasi itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya, bukan tak mungkin yang dihasilkan stagnasi

1. Pengertian Menurut Para ahli

Berbagai pengertian atau batasan mengenai sosialisasi politik telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan terkemuka. Sama halnya dengan pengertian-pengertian tentang budaya politik, sistem politik dan seterusnya, meskipun diantara para ahli politik terdapat perbedaan, namun pada umumnya tetap pada prinsip-prinsip dan koridor yang sama. Berikut ini akan dikemukana beberapa pengertian sosialisasi politik menurut para ahli.

David F. Aberle, dalam “Culture and Socialization”

Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial, atau aspek-aspek tingkah laku, yang menanamkan pada individu-individu keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu pengetahuan), motif-motif dan sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan peranan-peranan yang sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus berkelanjutan) sepanjang kehidupan manusia normal, sejauh peranan-peranan baru masih harus terus dipelajari.

Gabriel A. Almond

Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk, dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya.

Irvin L. Child

Sosialisasi politik adalah segenap proses dengan mana individu, yang dilahirkan dengan banyak sekali jajaran potensi tingkah laku, dituntut untuk mengembangkan tingkah laku aktualnya yang dibatasi di dalam satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya.

Richard E. Dawson dkk.

Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai suatu pewarisan pengetahuan, nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua, guru, dan sarana-sarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa.

S.N. Eisentadt, dalam From Generation to Ganeration

Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia lain, dengan siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki beberapa jenis relasi-relasi umum. Oleh Mochtar Mas’oed disebut dengan transmisi kebudayaan.

Denis Kavanagh

Sosialisasi politik merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari dan menumbuhkan pandangannya tentang politik.

Alfian

Mengartikan pendidikan politik sebagai usaha sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat, sehingga mereka mengalami dan menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. Hasil dari penghayatan itu akan melahirkan sikap dan perilaku politik baru yang mendukung sistem politik yang ideal tersebut, dan bersamaan dengan itu lahir pulalah kebudayaan politik baru. Dari pandangan Alfian, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni:

pertama : sosialisasi politik hendaknya dilihat sebagai suatu proses yang berjalan terus-menerus selama peserta itu hidup.

Kedua : sosialisasi politik dapat berwujud transmisi yang berupa pengajaran secara langsung dengan melibatkan komunikasi informasi, nilai-nilai atau perasaan-perasaan mengenai politik secara tegas. Proses mana berlangsung dalam keluarga, sekolah, kelompok pergaulan, kelompok kerja, media massa, atau kontak politik langsung.

Dari sekian banyak definisi ini nampak mempunyai banyak kesamaan dalam mengetengahkan beberapa segi penting sosialisasi politik, sebagai berikut.

Sosialisasi secara fundamental merupakan proses hasil belajar, belajar dari pengalaman/ pola-pola aksi.Memberikan indikasi umum hasil belajar tingkah laku individu dan kelompok dalam batas-batas yang luas, dan lebih khusus lagi, berkenaan pengetahuan atau informasi, motif-motif (nilai-nilai) dan sikap-sikap.Sosialisasi itu tidak perlu dibatasi pada usia anak-anak dan remaja saja (walaupun periode ini paling penting), tetapi sosialisasi berlangsung sepanjang hidup.Bahwa sosialisasi merupakan prakondisi yang diperlukan bagi aktivitas sosial, dan baik secara implisit maupun eksplisit memberikan penjelasan mengenai tingkah laku sosial.

Dari sekian banyak pendapat di atas, menurutMichael Rush & Phillip Althoff, ada dua masalah yang berasosiasi dengan definisi-definisi tersebut di atas.

Pertama : seluas manakah sosialisasi itu merupakan proses pelestarian yang sistematis? Hal ini penting sekali untuk menguji hubungan antara sosialisasi dan perubahan sosial; atau istilah kaum fungsionalis, sebagai pemeliharaan sistem. Dalam kenyataan tidak ada alasan sama sekali untuk menyatakan mengapa suatu teori mengenai sosialisasi politik itu tidak mampu memperhitungkan: ada atau tidaknya perubahan sistematik dan perubahan sosial; menyediakan satu teori yang memungkin pencantuman dua variabel penting, dan tidak membatasi diri dengan segala sesuatu yang telah dipelajari, dengan siapa yang diajar, siapa yang mengajar dan hasil-hasil apa yang diperoleh. Dua variabel penting adalah pengalaman dan kepribadian dan kemudian akan dibuktikan bahwa kedua-duanya, pengalaman dan kepribadian individu, lebih-lebih lagi pengalaman dan kepribadian kelompok-kelompok individu- adalah fundamental bagi proses sosialisasi dan bagi proses perubahan.

Kedua : adalah berkaitan dengan keluasan, yang mencakup tingkah laku, baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diakses yang dipelajari dan juga bahwa berupa instruksi. Instruksi merupakan bagian penting dari sosialisasi, tidak perlu disangsikan, orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya beberapa cara tingkah laku sosial tertentu; sistem-sistem pendidikan kemasyarakatan, dapat memasukkan sejumlah ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaraan; negara bisa secara berhati-hati menyebarkan ideologi-ideologi resminya. Akan tetapi tidak bisa terlalu ditekankan, bahwa satu bagian besar bahkan sebagian terbesar sosialisasi, merupakan hasil eksperimen; karena semua itu berlangsung secara tidak sadar, tertutup, tidak bisa diakui dan tidak bisa dkenali.

Istilah-istilah seperti “menanamkan” dan sampai batas kecil tertentu “menuntun pada perkembangan” kedua-duanya cenderung mengaburkan segi penting dari sosialisasi. MakaMichael Oakeshott menyatakan; “Pendidikan politik dimulai dari keminkamtaan meminati tradisi dalam bentuk pengamatan dan peniruan terhadap tingkah laku orang tua kita, dan sedikit sekali atau bahkan tidak ada satupun di dunia ini yang tampak di depan mat akita tanpa memberikan kontribusi terhadapnya. Kita menyadari akan masa lampau dan masa yang akan datang, secepat kesadaran kita terhadap masa sekarang.”

Jadi, walaupun kenyataan bahwa sosialisasi itu sebagian bersifat terbuka, sistematik dan disengaja, namun secar atotal adalah tidak realistis untuk berasumsi bahwa makna setiap pengalaman harus diakui oleh pelakunya, atau oleh yang melakukan tindakan yang menyangkut pengalaman tersebut.

Kiranya kita dapat memahami bahwa sosialisasi politik adalah proses, dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya, sekalipun hal ini mungkin terjadi. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi; akan tetapi apakah hal ini menuju pada stagnasi atau pada perubahan, tergantung pada keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. Apabila tidak adanya legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya, maka perubahan mungkin saja terjadi, akan tetapi apabila legitimasi itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya, bukan tidakmungkin terjadi stagnasi.

2. Proses Sosialisasi Politik

Perkembangan sosiologi politik diawali pada masa kanak-kanak atau remaja. Hasil riset David Easton dan Robert Hess mengemukakan bahwa di Amerika Serikat, belajar politik dimulai pada usia tiga tahun dan menjadi mantap pada usia tujuh tahun. Tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan,, seperti “keterikatan kepada sekolah-sekolah mereka“, bahwa mereka berdiam di suatu daerah tertentu. Anak muda itu mempunyai kepercayaan pada keindahan negerinva, kebaikan serta kebersihan rakyatnya. Manifestasi ini diikuti oleh simbol-simbol otoritas umum, seperti agen polisi, presiden, dan bendera nasional. Pada usia sembilan dan sepuluh tahun timbul kesadaran akan konsep yang lebih abstrak, seperti pemberian suara, demokrasi, kebebasan sipil, dan peranan warga negara dalam sistem politik.

Peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Menurut Easton dan Hess, anak-anak mempunyai gambaran yang sama mengenai ayahnya dan presiden selama bertahun-tahun di sekolah awal. Keduanya dianggap sebagai tokoh kekuasaan. Easton dan Dennis mengutarakan ada 4 (empat) tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak, yaitu sebagai berikut.

Pengenalan otoritas melalui individu tertentu, seperti orang tua anak, presiden dan polisi.Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang ekternal, yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah.Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal, seperti kongres (parlemen), mahkamah agung, dan pemungutan suara (pemilu).Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi ini.

Suatu penelitian secara khusus telah dilakukan guna menyelidiki nilai-nilai pengasuhan anak yang dilakukan oleh berbagai generasi orang tua di Rusia. Nilai-nilai itu adalah sebagai berikut :

Tradisi; terutama agama, tetapi juga termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan dantradisi pada umumnyaPrestasi; ketekunan, pencapaian/perolehan, ganjaran-ganjaran material mobilitas sosial.Pribadi; kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kemurahan hati.Penyesuaian diri; bergaul dengan balk, menjauhkan diri dari kericuhan, menjaga keamanan dan ketentraman.Intelektual; belajar dan pengetahuan sebagai tujuan.Politik; sikap-sikap, nilai-nilai, dan kepercayaan berkaitan dengan pemerin­tahan.

Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Adapun sarana alat yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik, antara lain :

1) Keluarga (family)

Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. Di mulai dari keluarga inilah antara orang tua dengan anak, sering terjadi “obrolan” politik ringan tentang segala hal, sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.

2) Sekolah

Di sekolah melalui pelajaran civics education(pendidikan kewarganegaraan), siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Dengan demikian, siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar dari sudut pandang akademis.

3) Partai Politik

Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran sebagai sosialisasi politik. Ini berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpatisannya secara periodik maupun pada saat kampanye, mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. Partai politik harus mampu menciptakan “image” memperjuangkan kepentingan umum, agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa dapat memenangkan pemilu.

Budaya politik yang parokial partisipan serta budaya politik Islam yang sangat kental memengaruhi pilihan petani salak Cineam dalam memilih partai politik. Partai politik Islam tentunya akan lebih berpeluang memenangkan pemilih dari kalangan petani salak, walaupun tidak tertutup kemungkinan partai yang bersifat nasionalis serta memiliki citra yang positif berpeluang yang sama.

4. Sosialisasi Politik dalam Masyarakat Berkembang atau Petani

Masalah sentral sosiologi politik dalam masyarakat berkembang ialah menyang­kut perubahan. Hal ini dilukiskan dengan jelas oleh contoh negara Turki, di mana satu usaha yang sistematis telah dilakukan untuk mempengaruhi maupun untuk mempermudah mencocokkan perubahan yang berlangsung sesudah Perang Dunia Pertama. Mustapha Kemal (Kemal Ataturk) berusaha untuk memodernisasi Turki, tidak hanya secara material, tetapi juga melalui proses-proses sosialisasi. Contoh yang sama dapat juga dilihat pada negara Ghana.

Menurut Robert Le Vine, terdapat 3 (tiga) faktor masalah penting dalam sosialisasi politik pada masyarakat berkembang, yaitu sebagai berikut :

Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui kapasitas mereka untuk “memodernisasi” keluarga tradisonal lewat indus­trialisasi dan pendidikan.Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai tradisional antara jenis-jenis kelamin, sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nilai tradisonal. Namun, si Ibu dapat memainkan satu peranan penting pada saat sosialisasi dini dari anak.

Adalah mungkin pengaruh urbanisasi, yang selalu dianggap sebagai satu kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional. Paling sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai ke dalam daerah-daerah perkotaan, khususnya dengan pembentukan komunitas­komunitas kesukuan dan etnis di daerah-daerah ini.

Kamis, 20 Agustus 2015

Fitur Penting Android Marshmallow

Fitur Penting Di Android Marshmallow

Nama baru membawa fitur-fitur penting baru. Mari kita sambut Android Marshmallow berikut fitur-fitur pentingnya!

Versi terbaru dari sistem operasi Android sudah resmi diluncurkan. Dengan mengusung nama Marshmallow, versi ini membawa satu lompatan yang dibenamkan di dalamnya. 

Bukan hanya sekadar memperbaharui tampilan dan dasar-dasar teknis, Android Marshmallow juga membawa perubahan pada fitur-fitur andalannya. Apa saja fitur penting di Android Marshmallow?

Sensor Sidik Jari

Google melakukan standarisasi dukungan pada penggunaan sensor sidik jari di Android M ini. Bukan hanya dipakai untuk mengamankan (mengunci) dan membuka ponsel kamu, tapi sistem sensor sidik jari ini juga dihubungkan pada pembayaran mobile Android Pay, yang fokus pada kesederhanaan, keamanan dan pilihan.

App Permissions

Di sektor ini juga ada perubahan. Kalau dulunya pengguna akan dimintai izin saat akan melakukan instalasi atau pemasangan aplikasi, kini justru akan dimintai izin untuk melakukan aktivitas saat aplikasi itu pertama kali diperlukan.

Now On Tap

Dengan adanya fitur ini, pengguna Android akan merasakan kemudahan yang sama seperti yang ditawarkan Siri milik Apple. Cukup dengan menekan tombol Home, maka pengguna bisa mengakses Google Now dan memperoleh beragam informasi penting yang dibutuhkan dan diinginkan.

Mode Doze

Teknologi terbaru Google ini sudah pernah diperkenalkan sebelumnya di beberapa acara. Mode ini berperan penting dalam memperkecil konsumsi baterai, pas ponsel lagi dalam keadaan stand by. Menurut pihak Google, mode ini bisa memperpanjang daya baterai sebuah tablet Android hingga dua kali lebih lama!

System UI Tuner

Fitur ini bisa diaktifkan dengan cara menarik window notifikasi, lalu tekan dan tahan pilihan Settings selama kira-kira 5 detik. Setelahnya, fitur ini sudah aktif dan kamu bisa mengubah quick toggle tiles, menambah atau menghapus item dari status bar, atau bahkan masuk ke mode Demo!

Android Pay

Dengan adanya fitur ini, pengguna Android akan dimudahkan untuk membayar barang-barang. Baik itu dibeli di Play Store atau toko retail hanya dengan menggunakan ponsel mereka. 

Isi Baterai Lebih Cepat

Versi terbaru Android akan membawa USB tipe C, di mana pengisian baterai akan sampai 5 kali lebih cepat daripada biasanya. Jadi nggak ada lagi yang namanya menunggu lama hingga daya baterai terisi penuh.

Makanan Penurun Berat Badan

Ini 5 Jenis Makanan Penurun Berat Badan

Demi mendapatkan berat badan sesuai keinginan, nggak ada salahnya mencoba deretan makanan ini. 

Berhubung banyak orang yang ingin menurunkan berat badan, nggak heran kalau banyak bermunculan program dan metode diet belakangan ini. Nggak cuma lewat pengaturan makanan, ada juga yang menggunakan obat dan bahkan jenis pakaian!

Nah, sebenarnya ada beberapa jenis makanan yang bisa kamu konsumsi jika ingin menurunkan berat badan. Bisa dibilang, dengan jenis makanan ini kamu akan menjalani diet alami. Tentunya dibarengi dengan olahraga ya!

CABAI

Di dalam cabai terkandung komponen bernama capsaicin aktif. Nah, zat ini punya kemampuan meningkatkan metabolisme dan menunjang oksidasi lemak di dalam tubuh.

SUSU RENDAH LEMAK & YOGURT

Sama-sama berbahan dasar susu, dua asupan nutrisi ini merupakan sumber kalsium yang setelah diteliti ternyata ampuh untuk membakar lemak! Jadi kalau mau menghilangkan lemak di tubuh, cepat-cepat konsumsi dua asupan ini! Selain itu, yogurt juga mengandung probiotik yang bisa mendorong metabolisme tubuh.

AIR PUTIH DINGIN

Menurut beberapa orang, minum air putih dingin itu bisa membuat perut lebih besar. Tapi ternyata anggapan ini salah. Air dingin justru bisa meningkatkan hidrasi tingkat metabolisme sampai maksimal. Malahan kata salah satu penelitian, bisa mendorong sampai 30 persen lho!

TEH HIJAU

Nah ini yang lumayan digandrungi banyak orang kalau soal menurunkan berat badan. Teh hijau memang punya sifat termogenik, dan menunjang oksidasi oksidasi banyak lemak gara-gara kandungan kafeinnya. Ekstrak teh hijau bisa dibilang punya peranan penting dalam mengontrol komposisi tubuh melalui thermogenesis, oksidasi lemak, atau paduan keduanya.

KOPI

Banyak orang menganggap bahwa kopi hanya sebatas minuman pagi hari, atau minuman pendorong semangat. Nggak salah, tapi kopi juga punya manfaat untuk menurunkan berat badan. Karena kopi bisa meningkatkan metabolisme dan energi lebih banyak hingga 16 persen. Ini hanya untuk kopi berkafein ya.